Semenjak angin dan musim
menelantarkan tubuh
yang kecil dan mungil
menerbangkan tiaptiap harapan
kita sebut –sebut– itu awal peradaban.

Awan dan murai. Mereka, tak saling
pandai
merayu suasana hati
yang bimbang dan galau
mengingat lagi bagaimana sikap cuaca
yang diberangus kerna cinta
yang dipenjara oleh harta.

Aku ingat. Kita pernah
membuat satu iklim
di dada kita tanpa angin,
tanpa hujan,
tanpa panas atau kemarau panjang
di sebuah tahun
di masa kita
sebagai anakanak yang lugu
menarik-narik kemben ibu
hendak beranjak menuju ranjang
lalu kemudian sirah perjuangan
para pendahulu, ayah yang menceritakan.

Tapi,
sepanjang tirai langit dan bumi
kita tak tahu musim
apa yang sedang terjadi
kemana angin melabuhkan diri?

Hingga semenjak itu
semua yang pernah
kita baca dan simpan
tak lagi miliki ruh
tak ada kosakata utuh, dan
peradaban hampir runtuh.

Sebab memang,
buku dan dongeng tak lagi nge-‘trend’
Dan memang,
kita lebih senang dengan pergaulan ‘lo-gue-end’
Karena memang,
kelereng dan tap jongkok sudah jadul
Ya, memang,
kita sangat suka yang kekinian.

Tarakaares

12 thoughts on “Blank Page

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s