Se-Sabtu-Malaman Rindu

Kubuka lagi, Ay. Kubaca berulangkali. Apa-apa yang membuat kita tak lagi “saling” dan “ingin”, apa-apa yang menjadikan “kita” hanya sampai pada “kata” yang masing. Dan apa-apa yang sekarang kita yakini semua sebagai takdir. Ialah puisi-puisi galau yang menceritakan kerinduan seorang Majenun dari “Negeri Timur”, seorang yang tak pernah tahu bahwa telah separuh hidupnya nyaris ia lalui dengan hanya menjadi pecinta, perindu, atau bahkan sekadar pengagum.

Majenun yang dengan kecintaannya sangat begitu ambisius dan absurd, bahkan lebih ke arah yang paling dalam yang kita ketahui hanya sebatas tentang pengertian rasa “silih-saling” yang bernotabene soal kepedulian. Adalah kecintaannya pada sesosok “hawa” yang bisa disebut tiada tara, lelaku yang mengantarkannya pada jalan-jalan pesakitan di belantaranya perasaan–menuju puncaknya rindu dalam kepasrahan total–pertemuan dengan Sang Tuhan.

Loh, kok bisa?
Ya, bagaimana tidak? Ia mencintai Laila tanpa pernah tahu siapa, tak pernah mengerti soal bagaimana, dan tak sampai hati timbul tanya mengapa. Cinta yang dimilikinya benar murni bersumber dari nurani, bukan teori-teori kasihsayang yang tetiba timbul di pikiran-yang lantas dengan lantang diucapkan kemudian. Rindu yang dirasakannya pun merotasi dari syahdunya perasaan, bukan kata-kata “kekangenan” yang hanya mampu kita pahami sebagai gurauan-ketika merasa sedang kesepian dan sendirian.

____________________________________________

Sejauh ini, Ay. Mengenangmu seromantis ini. Dari penggalan sepertiga malam menjelang pagi, secangkir kopi dan ringkih nyamuk-nyamuk penyamun mimpi.

Hm… Kau kenal, dan tahu siapa Majenun? Ya, jika tidak pun tak apa. Coba kau cari saja di “Google” atau situs-situs internet yang kerap kau tahu di sana semuanya serba ada. Ketimbang membaca buku yang dengan ratusan bahkan ribuan halamannya membuatmu pusing tujuh keliling. Bukankah gadget yang kau miliki nyatanya lebih pintar ketimbang dirimu sendiri?

Yasudahlah, usah sensitif dan dibuat masalah. Pikirku, ya, setidaknya jika dengan cinta kita bisa menjadi lebih bahagia dan ringan berbagi-memberi, kenapa harus dengan membenci dan saling memunggungi?.
Ah, itusih terserahmu sajalah.

(Se-sabtu-malaman bersama dengan kenangan-kenangan mantan. Hahaha.)

18-02-17,
Ciputat, Tangerang Selatan.

Anggap Saja Hidupku Enak

Anggap saja hidupku enak
jalan-jalan, hura-hura melepas penat
perlu ini tinggal beli
perlu itu tak harus kesana-kemari
cukup dengan tanda tangan
satu pulau sudah berbentuk kwitansi.

Anggap saja hidupku enak
tak perlu repot memikirkan segala
tuding telunjuk terselesaikan semua
dari pekerjaan
sampai simpanan asmara
semua sesuai rencana.

Anggap saja hidupku enak
hanya duduk menunggu uang
tak perlu mengucurkan keringat
yang penting keren dan memikat
soal baiknya belakangan
sudah sepakat pasti bakal senang.

Ya,
anggap saja hidupku sepertimu, tuan
pintar berkelakar soal kebahagiaan
urusan apapun mudah digenggam
tapi
aku tak mau hidup sepertimu
manis dipandang sekedar gurau
unjuk kehebatan dan membuat kekacauan.

Ya,
anggap saja hidupku sepertimu, tuan
selalu dengan kemewahan
tapi tuan,
kau tak mendengar kami menjerit
kau tak tahu ini mencekik
rumah kami kau injak
hak kami kau peralat
nasi kami kau curi, dan
terhadap kesehatan kami kau jijik.

Sungguh, tuan
kau lupa kehidupan
kau lupa kemanusiaan, dan
kau lupa; bahwa kau
bukan Tuhan.

(Terinspirasi dari “pengemis kecil dan pedagang asongan” di jalan-jalan pinggiran Ibukota.)

Pasar Senen, 16 Feb 2017.

Mahligai Hujan

Lantaran sekarang hujan, bagaimana kalau kita saling merindukan? Jika kau setuju, akan kubuatkan sebuah mahligai yang anti banjir. Aku percaya, kau akan betah untuk tinggal berlama-lama. Sebab di luar, tak ada lagi tempat yang kau temukan tuk menunggu redanya hujan atau sekedar menghangatkan badan. Aku juga percaya, di sana kau akan merasa nyaman sebab hujan di luar tak bisa menembus masuk ke ruangan. Jendela lapis bajanya telah kupasangi peredam, siap menghalau setiap gemuruh badai yang membuatmu kerap merasa ketakutan. Lalu kemudian, akan kubuatkan juga secangkir teh untuk menemani gigil tubuhmu yang kesepian, meski tanpa bahuku tuk melepas segala pongah akibat rindu yang panjang dan tak selesai sebentar.

(Bersama hujan).

Ciputat, 16-02-17.

Arimlaanahayan (1)

5:52 PM

Terbitlah dari panel status bar di handphoneku. Ada satu pemberitahuan, sebuah pesan masuk langsung dari seseorang yang timbul di bilah ujung kanan akun Instagram ku. Entah dari siapa dan seperti apa pesannya, perlu dibalas atau tidak, yang jelas harus kubaca terlebih dahulu. Mungkin saja itu sebuah pesan penting dari keluarga, guru dan teman-temanku di grup percakapan.

“Assalamu’alaikum”

Sebuah kalimat sapa yang kali pertama membuatku begitu sangat gugup; membuatku benar-benar kikuk dan takluk dalam ringkuk. Tak seperti biasanya, kudapati sebuah telepon atau pesan pada percakapan dengan awalan salam. Karena, dari sekian banyak pesan-pesan singkat atau telepon di handphoneku kebiasaan tak menggunakan pembuka percakapan dengan kalimat itu. Langsung ke inti pesan, pertanyaan dan ‘bablas’ — menghilang, jika memang sudah didapatinya jawaban yang pas.

“Saha eta?”

Deg…
Kalimat kedua dari pesannya yang mendadak membuatku terpana kembali, yang kemudian padaku timbullah senyum kecil di ujung bibir.
Meski begitu, kusadari, ia mengirimkannya di beberapa jam yang lalu. Tapi, ini adalah pesan singkat langsung pertama dengan awal yang baik, kurasa. Dan sedikit bisa kupastikan bahwa dia adalah Suku Sunda.

Ekspedisi Religi Jomb’s Squad

Dian Al Mahri Mosque, Depok-Jawa Barat, Indonesia

Dari sekian banyak perjalanan, ini perjalanan paling tak waras. Bisa disebut perjalanan paling gabut. Ya, sebab tanpa alasan apapun tetiba saja di benak kami ada kepingin jalan-jalan. Tak tahu tujuannya ke mana dan ingin melakukan apa (selain poto-poto).

“Kuy lah, otewe-otewean. Biar kaya orang”, pancingku membuka obrolan gak jelas yang nantinya akan menjadi sungguhan.

“Kuy lah. Boring nih, di sini terus. Oya, interupsi, ndan. Asal jangan jauh-jauh, ngeluarin ongkos banyak, rame-rame dan satu lagi; bisa hunting cakep”, sahut salah satu pasukan yang memang sedang dalam keadaan gak jelas juga.

…….

(Ceritanya bersambung dulu, ya..) 😁😂

Yes, I Miss

This time. Night and the sky
up there,
deserted into the pen
pages and space
for each the wound.

This time. On the front,
porch with a coffee. I grumbled,
“Why should you?”
started strong winds
lankets pulled away
; curled up.
Once again I murmured,
“I miss. I hope there is no new injuries when met else but you”.

And this time. Yeah, i admit
i missed.

(Now, he’s like a real writer. It’s so strange and his self have made the lost further into the memories) Heu.

_____

Tangerang, Desember-2016.

Panggilan Ganjil

Pernah, dulu
di tempat biasa kita bercerita
duduk bersisihan, kadang berhadapan
kopi dan roti menjadi lapak singgah
untuk setiap perjalanan, untuk segenap kekangenan.

Tapi, waktu membagikan nuansanya
rindu harus terkikis
lengan kita tersangkut
ekspresi wajah mengkerut
menciut, mengerucut.

Satu tahun mungkin tak sebentar
perdebatan mengubah suasana
perlahan-lahan, kepercayaan memudar
dan cinta mulai menghembuskan aroma busuk
menyengat, menyumbat.

Memang pernah, dulu
di telingaku
lirih, pelan sekali
kau katakan

: “tahun ini ganjil, begitu pula perasaanku. Waktu dan jarak tak ubahnya benalu. Biar kita akhiri ini, aku sudah menemukan yang baru”.

Setelahnya hening
tak terdengar apa-apa lagi
tut, tut, tut
dan panggilan terputus.
_____

(Incoming call note)
Purwakarta, Januari-2015.

Dear Mantan

Jika tak mampu
kau tak percaya
padaku,
percayalah pada cinta
sebagaimana yang kau yakini–tentang kita

Jika tak sanggup
kau tak peduli
untukku,
rawatlah rindu
di ladang ingatan
sampai senja menghapus seluruh bayangan

Kita tidak buta, kan?
ya,
tapi kita bisa mendengar
satu samalain
riuh suarasuara
kenangan
dari langkah yang diamdiam tenggelam bersama malam yang hampir padam,
puisiku mulai kedinginan.

Kepada engkau…
Dengarlah.
_____

Batu Ceper, Tangerang.
18-09-16

Lagu Romantis

Biarkan aku dan malam
menyanyikan
lagulagu tentang cinta
bersama serumpun bait puisi kasmaran
di ujung halaman, rembulan memanggil bintang

:pernah ku nyatakan, padamu segala ku serahkan. Hidup tak ada arti, jika engkau masih sendiri. Biarkan, biarkan aku dan bintang-bintang. Menemanimu malam ini, sampai tiba matahari.

Perasaan-perasaan kita
menyentuh cinta
yang manis seperti gulali
rindu kita menari-nari
tak ada pura-pura, tak ada yang tak kita

Tapi, sayang…

Biarlah kini ku sendiri
di sampingmu
melukis dunia kita dan hapus setiap ketakutan
bersama kunang-kunang dan gemericik air sungai
yang menjadi saksi keromantisan kita

:gema di dada kita menyala, terang seperti bintang. Rembulan tertawa kencang–sambil bergandengan tangan; kita melangkah pulang.

Kepada malam, bulan dan bintang
-kau.
_____

Ciputat, Tangerang Selatan.
17-09-16