Katakanlah, Kasih.

Katakan, Meera.
Harum pagi ini begitu romantis.
Begitu melankolis dari siutan-siutan yang puitis.
Atas langit yang masih biru dan terlihat segar.
Atas cuaca yang masih sering berubah dan mempermainkan setiap debar.
Atas dedaunan dan jantung pisang yang menggelayut cemas menggantungkan harapan–dari upaya angin menjatuh-gugurkan badan.

Katakan, Meera.
Katakan, tak ada yang lebih indah selain bersabar. Menunggu musim berganti semi.
Menyiapkan diri menjadi lebih berwarna–dari hari-hari yang menyimpan banyak luka.
Sampaikanlah kabar gembira bagi mereka yang bersabar; dalam hati dan pikirannya tetap tenang.
Tak putus asa terhadap kurnia Tuhan yang berupa kemewahan dan kenyamanan, serta,

Katakanlah : “Aku baik dan akan baik-baik saja, sebab aku memiliki cinta”.

(Tetep sumanget dan jangan lupa ngopi, mblo! Sampaikanlah kebenaran!) :)🙌😁😇

South Tangerang, 10 Januari 2017

Dengan Atau Tanpamu

Dengan atau tanpamu
aku rindu, pada kopi yang kita hidu
lewat panas dan terik
yang menuturi jejak dan bayangmu
dari balik pepohonan itu

aku melihat,
derap langkahmu gontai
samar-samar, dan hilang
dirahasiakan oleh murai,
dibawa pergi camar-camar besi

aku merekam,
senyum kecil di wajahmu
yang memperhatikan
yang pergi dan datang
tiapkali kuingat ulang, pelan
-pelan dan diam-diam

dengan atau tanpamu
aku rindu, suara dan tangismu
pada hari-hari dimana cinta dan cita
memenjarakan waktu-waktu
mengekalkan lagu-lagu
lewat secangkir kopiku

di bawah pohon ini
aku memohon; melihat senyummu–mekarlah rinduku.

The Bamboo’s Garden – Hotel Sari Kuring

Cilegon, Tangerang-Banten.
02-08-16

Welcome, September

“Segala yang pergi tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sebentar singgah, di suatu tempat yang bernama entah.”

Mengingatmu, sekali lagi.

“Kita tak benar-benar mengerti jarak dan waktu yang begitu angkuh ini. Sebab selama yang kita lalui, di dada kita perasaan-perasaan tak dapat terbang bebas. Kita mengurung segala kemungkinan dan meyakinkan diri sendiri melawan kemustahilan.”

Aku masih lelaki kecil
yang hampir patah dan kalah

“Dan hujan turun, menusuk wajah kita. Kesepian menjadi celah. Diam dan bosan merubah arah.”

Terbanglah, kau
kemanapun sepenuh ingin
aku masih akan di sini
rumahku banjir, perabotan berantakan
sebentar lagi luber dan tenggelam

Kau, ingatlah
jika suatu saat sayapmu patah
dan tubuhmu yang mulus itu lelah
singgahlah, meski hanya beberapa waktu
di rumahku yang baru, aku
dan anak-anak rindu
masih sedia menerima tamu.

(Selamat. Kau yang datang dan pergi, semoga tak lupa singgah sesekali. Tak perlu membawa janji, cukup dengan rindu–kerna bahagianya hati.)

Warung Kopi Indonesia, Ciputat-Tangerang Selatan.
01-09-2016