Anggap Saja Hidupku Enak

Anggap saja hidupku enak
jalan-jalan, hura-hura melepas penat
perlu ini tinggal beli
perlu itu tak harus kesana-kemari
cukup dengan tanda tangan
satu pulau sudah berbentuk kwitansi.

Anggap saja hidupku enak
tak perlu repot memikirkan segala
tuding telunjuk terselesaikan semua
dari pekerjaan
sampai simpanan asmara
semua sesuai rencana.

Anggap saja hidupku enak
hanya duduk menunggu uang
tak perlu mengucurkan keringat
yang penting keren dan memikat
soal baiknya belakangan
sudah sepakat pasti bakal senang.

Ya,
anggap saja hidupku sepertimu, tuan
pintar berkelakar soal kebahagiaan
urusan apapun mudah digenggam
tapi
aku tak mau hidup sepertimu
manis dipandang sekedar gurau
unjuk kehebatan dan membuat kekacauan.

Ya,
anggap saja hidupku sepertimu, tuan
selalu dengan kemewahan
tapi tuan,
kau tak mendengar kami menjerit
kau tak tahu ini mencekik
rumah kami kau injak
hak kami kau peralat
nasi kami kau curi, dan
terhadap kesehatan kami kau jijik.

Sungguh, tuan
kau lupa kehidupan
kau lupa kemanusiaan, dan
kau lupa; bahwa kau
bukan Tuhan.

(Terinspirasi dari “pengemis kecil dan pedagang asongan” di jalan-jalan pinggiran Ibukota.)

Pasar Senen, 16 Feb 2017.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s