Panggilan Ganjil

Pernah, dulu
di tempat biasa kita bercerita
duduk bersisihan, kadang berhadapan
kopi dan roti menjadi lapak singgah
untuk setiap perjalanan, untuk segenap kekangenan.

Tapi, waktu membagikan nuansanya
rindu harus terkikis
lengan kita tersangkut
ekspresi wajah mengkerut
menciut, mengerucut.

Satu tahun mungkin tak sebentar
perdebatan mengubah suasana
perlahan-lahan, kepercayaan memudar
dan cinta mulai menghembuskan aroma busuk
menyengat, menyumbat.

Memang pernah, dulu
di telingaku
lirih, pelan sekali
kau katakan

: “tahun ini ganjil, begitu pula perasaanku. Waktu dan jarak tak ubahnya benalu. Biar kita akhiri ini, aku sudah menemukan yang baru”.

Setelahnya hening
tak terdengar apa-apa lagi
tut, tut, tut
dan panggilan terputus.
_____

(Incoming call note)
Purwakarta, Januari-2015.