Di Kamar Puisiku

Aku bukan seorang penulis. Hanya saja begitu suka menulis. Menulisi apa saja yang pernah kurekam dalam ingatan di masa silam, meski luka sekalipun–sampai sekarang.

Di kamarku tak begitu banyak buku, hanya ada setrikaan dan beberapa pakaian yang bergelantungan. Tak ada meja belajar, balcon paranti santai atau kasur empuk lapis dua dan nyaman untuk menghayal. Tak ada. Semuanya serba mengampar bak ilalang dalam bentuk sebuah ruangan, dengan tikar plastik yang setiap kali dipakai–menjiplak garis-garisan di tubuh.

Di sana, segala yang puisi menjadi abadi, mengekal dalam coretan di segenap dinding kamar.
Ruang yang tak begitu besar itu memberikanku banyak halaman pelajaran, termasuk kerinduan dan kehilangan.

Kau tahu? Aku pernah mengukir wajahmu yang anggun itu di sana. Lengkap dengan mata paling indah dan bibir paling ranum. Tak lupa pula kutulis beberapa kata yang mewakili seluruh kita.

: sayang, jika ingatan adalah bagian dari hujan. Basuhlah jiwaku yang kering kerontang. Rindu tak hanya sekedar jumpa dan bertahan, maka biarlah hatiku hidup dalam keterlanjuran. Mencintaimu sedemikian dalam. Sebab di dunia ini tak ada yang kebetulan.

Di kamarku, semuanya ceria dan penuh tawa. Semuanya tak pernah cemberut dan merungkut dibalik selimut.

Kau tahu? Senyum tak pernah mendustai bibir, sekalipun timbul dari hidup seorang pelacur.

Cipondoh, Tangerang.
16-09-16

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s