Dear Mantan

Jika tak mampu
kau tak percaya
padaku,
percayalah pada cinta
sebagaimana yang kau yakini–tentang kita

Jika tak sanggup
kau tak peduli
untukku,
rawatlah rindu
di ladang ingatan
sampai senja menghapus seluruh bayangan

Kita tidak buta, kan?
ya,
tapi kita bisa mendengar
satu samalain
riuh suarasuara
kenangan
dari langkah yang diamdiam tenggelam bersama malam yang hampir padam,
puisiku mulai kedinginan.

Kepada engkau…
Dengarlah.
_____

Batu Ceper, Tangerang.
18-09-16

Lagu Romantis

Biarkan aku dan malam
menyanyikan
lagulagu tentang cinta
bersama serumpun bait puisi kasmaran
di ujung halaman, rembulan memanggil bintang

:pernah ku nyatakan, padamu segala ku serahkan. Hidup tak ada arti, jika engkau masih sendiri. Biarkan, biarkan aku dan bintang-bintang. Menemanimu malam ini, sampai tiba matahari.

Perasaan-perasaan kita
menyentuh cinta
yang manis seperti gulali
rindu kita menari-nari
tak ada pura-pura, tak ada yang tak kita

Tapi, sayang…

Biarlah kini ku sendiri
di sampingmu
melukis dunia kita dan hapus setiap ketakutan
bersama kunang-kunang dan gemericik air sungai
yang menjadi saksi keromantisan kita

:gema di dada kita menyala, terang seperti bintang. Rembulan tertawa kencang–sambil bergandengan tangan; kita melangkah pulang.

Kepada malam, bulan dan bintang
-kau.
_____

Ciputat, Tangerang Selatan.
17-09-16

Di Kamar Puisiku

Aku bukan seorang penulis. Hanya saja begitu suka menulis. Menulisi apa saja yang pernah kurekam dalam ingatan di masa silam, meski luka sekalipun–sampai sekarang.

Di kamarku tak begitu banyak buku, hanya ada setrikaan dan beberapa pakaian yang bergelantungan. Tak ada meja belajar, balcon paranti santai atau kasur empuk lapis dua dan nyaman untuk menghayal. Tak ada. Semuanya serba mengampar bak ilalang dalam bentuk sebuah ruangan, dengan tikar plastik yang setiap kali dipakai–menjiplak garis-garisan di tubuh.

Di sana, segala yang puisi menjadi abadi, mengekal dalam coretan di segenap dinding kamar.
Ruang yang tak begitu besar itu memberikanku banyak halaman pelajaran, termasuk kerinduan dan kehilangan.

Kau tahu? Aku pernah mengukir wajahmu yang anggun itu di sana. Lengkap dengan mata paling indah dan bibir paling ranum. Tak lupa pula kutulis beberapa kata yang mewakili seluruh kita.

: sayang, jika ingatan adalah bagian dari hujan. Basuhlah jiwaku yang kering kerontang. Rindu tak hanya sekedar jumpa dan bertahan, maka biarlah hatiku hidup dalam keterlanjuran. Mencintaimu sedemikian dalam. Sebab di dunia ini tak ada yang kebetulan.

Di kamarku, semuanya ceria dan penuh tawa. Semuanya tak pernah cemberut dan merungkut dibalik selimut.

Kau tahu? Senyum tak pernah mendustai bibir, sekalipun timbul dari hidup seorang pelacur.

Cipondoh, Tangerang.
16-09-16

Seperti Kita

Hiduplah,
seperti udara
yang tak pernah meredam segala
luka yang menyentuhmu itu
karena rindu dan cinta yang gila
sama–seperti kita

Hidupmu perlu bahagia
tak melulu soal derita
bukankah Tuhan mencipta segala kerna memang ada hikmahnya? Ada hubungannya
seperti rindu dan cinta,
derita dan bahagia
sama–seperti kita

: semoga.

_____

Wadas, Karawang Timur.
11-09-16

Usia Cinta

Jika tak sampai
aku menyentuhmu
dengan debar dan getar yang tak biasa kita pahami
sebagai perjalanan hati — ke hati
dan memikul rindunya sendiri

Jika tak sampai
aku mengenalimu
dari bibir yang merahnya meluntur lengan yang kendur
jantung dan nafas memburu
perasaan-perasaan kita yang batu

Cinta tak mencipta derita
-bagi masing-masing hati yang mengasihi
kesadaran ingin dicintai
atau memiliki tiadalain hanya tikaman
perasaan itu sendiri, terkulai
di tengah guruhnya badai

Dan jika pada akhirnya kita
memang tak pernah benar-benar
sampai
rindu, tak ubahnya nyawa
tak ragu menerima segala cuaca
di mata usia yang lupa, atau
ruang di dadaku yang hampa

: kita tak seharusnya berpura-pura, kan?

_____

Cipondoh, Tangerang.
11-09-16

Sudah Kutulis Satu Puisi

Sudah kutulis satu puisi
seperti pintamu
sebelum pukul satu
kukirim untuk kau
simpan

:sayang, sebaik-baiknya perasaan
adalah yang tak pernah meninggalkan

kesedihan dan kesenangan
mereka bersisihan
– bergantian, seperti siang dan malam

kita tak pernah tahu
kapan kematian datang
roda kehidupan masih berputar
mengelilingi setiap perasaan
yang haus kerinduan dan tertinggal di perjalanan

sudah kutulis satu puisi
kuhabiskan berlembar-lembar
agar kelak
kau baca dengan debar
dan getar

sebab tak ingin aku
di sepanjang musim
melihat cuaca di matamu luruh
dan tumpah, meruah; bah.

Ruang Tengah, Ciputat-Tangerang Selatan.
08-09-16

Bila Aku Daun di Ranting

Bila aku daun, di ranting
yang kering dan mudah patah
dihembuskan oleh angin
apakah kau akan tinggal
dan bermukim di dada?

Kau masih angkasa,
membubung tinggi di udara
mudah kemana-mana
menetap dimana saja
kau bebas bergerak sesuka hati

Aku daun, yang kecil
hidup di dahan yang mungil
dan bergantung hidup
sampai berganti musim

Senarainya anganku
tak lebih dari secuil
bagian kehendakmu yang baru
dan kau yang begitu
bahagialah selalu

Emperan jalan, Cipondoh-Tangerang.
07-09-16

Aku Masih Punai Kecil

Aku masih ingat. Waktu itu, kau pernah mengatakan bahwa malam dan rembulan selalu jadi teman, selalu jadi tempat kita menitipkan seluruh mimpi bersama bintang. Juga menjadi halaman paling indah dari apa yang kita lalui setiap hari.

Kau masih ingat, An? Bagaimana hujan dan bulan sembilan ini singgah, membuat segalanya menjadi benar-benar basah.

(Kini kau angin, aku masih punai kecil).

Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.
04-09-16


Dengan Atau Tanpamu

Dengan atau tanpamu
aku rindu, pada kopi yang kita hidu
lewat panas dan terik
yang menuturi jejak dan bayangmu
dari balik pepohonan itu

aku melihat,
derap langkahmu gontai
samar-samar, dan hilang
dirahasiakan oleh murai,
dibawa pergi camar-camar besi

aku merekam,
senyum kecil di wajahmu
yang memperhatikan
yang pergi dan datang
tiapkali kuingat ulang, pelan
-pelan dan diam-diam

dengan atau tanpamu
aku rindu, suara dan tangismu
pada hari-hari dimana cinta dan cita
memenjarakan waktu-waktu
mengekalkan lagu-lagu
lewat secangkir kopiku

di bawah pohon ini
aku memohon; melihat senyummu–mekarlah rinduku.

The Bamboo’s Garden – Hotel Sari Kuring

Cilegon, Tangerang-Banten.
02-08-16

Welcome, September

“Segala yang pergi tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya sebentar singgah, di suatu tempat yang bernama entah.”

Mengingatmu, sekali lagi.

“Kita tak benar-benar mengerti jarak dan waktu yang begitu angkuh ini. Sebab selama yang kita lalui, di dada kita perasaan-perasaan tak dapat terbang bebas. Kita mengurung segala kemungkinan dan meyakinkan diri sendiri melawan kemustahilan.”

Aku masih lelaki kecil
yang hampir patah dan kalah

“Dan hujan turun, menusuk wajah kita. Kesepian menjadi celah. Diam dan bosan merubah arah.”

Terbanglah, kau
kemanapun sepenuh ingin
aku masih akan di sini
rumahku banjir, perabotan berantakan
sebentar lagi luber dan tenggelam

Kau, ingatlah
jika suatu saat sayapmu patah
dan tubuhmu yang mulus itu lelah
singgahlah, meski hanya beberapa waktu
di rumahku yang baru, aku
dan anak-anak rindu
masih sedia menerima tamu.

(Selamat. Kau yang datang dan pergi, semoga tak lupa singgah sesekali. Tak perlu membawa janji, cukup dengan rindu–kerna bahagianya hati.)

Warung Kopi Indonesia, Ciputat-Tangerang Selatan.
01-09-2016